Jumat, 16 April 2010

Rokok Di Mataku

Merokok akhir-akhir ini sering diliput oleh media nasional baik cetak ataupun elektronik, dari yang membahas suatu daerah di Jogjakarta yang memberlakukan kawasan bebas rokok, sampai berita bocah balita di Jawa Timur yang kecanduan rokok, bahkan dengan adanya berita tersebut muncul juga bocah" lain yang kecanduan rokok, sungguh suatu fenomena aneh bagi saya. Belum lagi masalah haram halal yang banyak diperdepatkan oleh para ulama dan tokok masyarakat.
Saya merasa sangat bersyukur, walau terlahir dari keluarga yang mayoritas pria namun tidak ada satu orangpun yang merokok di keluarga saya. Mungkin karena kebiasaan inilah yang membuat saya tidak menyukai rokok. Sebenarnya menurut pandangan saya, merokok baik ada fatwa haram atau halal, bahaya ataupun tidak bagi kesehatan, legal atau ilegal tergantung dari masing-masing individu yang bersangkutan. Walaupun sekarang ada UU yang melarang merokok di area umum toh pada kenyataannya kita masih banyak menjumpai orang-orang yang merokok di keramaian.
Menurut saya, merokok adalah suatu hal yang sia-sia, karena dari merokok kita banyak sekali mendapatkan kerugian dari pada keuntungannya (yang kata perokok bisa merasa "nyaman"). Dari segi kesehatan sudah tentu bahaya pertama, bahkan didalam kemasannya pun sudah dituliskan efek yang akan ditimbulkan, penampilan jelas akan mempengaruhi karena disadari atau tidak seorang perokok bahkan yang sudah kecanduan bau badannya adalah asap rokok, belum gigi dan bibirnya yang menghitam tentu tidak nyaman jika dilihat, masyarakat disekitarnya yang seolah-olah dipaksa untuk menghirup asap rokok jelas merasa terganggu.
Saya kadang sampai heran, orang-orang teriak tidak mampu beli makanan, menyekolahkan anak atau bahkan sampai mempunyai hutang kartu kredit yang takterhitung tapi masih tetap saja merokoknya kayak kereta api. Berapa rupiah saja yang terbuang dengan sia-sia, tidak usah menyalahkan industri rokok atau petani tembakau, hak mereka untuk berproduksi tinggal kita yang mau mengkonsumsi atau tidak kan? Saya rasa para komisaris perusahaan rokok tidak akan menuntut masyarakat jika tidak membeli produknya. Coba bayangkan harga rata-rata rokok satu bungkus sekarang Rp 10.000, bila seseorang minimal menghabiskan satu bungkus sehari maka satu bulan dia membuang uang minimal Rp 300.000. Padahal banyak yang bisa kita lakukan dengan uang tersebut, misal untuk seseorang yang hidup di jakarta saya rasa masih bisa memperoleh kontrakan dengan biaya Rp 300.000/bln (tidak ada alasan hidup di jalan tanpa hunian yang layak jika uang rokok dialihkan untuk sewa rumah atau kamar).
Karena hidup adalah suatu pilihan, mau hidup sehat atau tidak, mau menghabiskan uang dengan sia-sia atau memanfaatkan dengan bijaksana, baik atau buruk semua tergantung pada indifidu yang bersangkutan, karena saya yakin sesuatu yang dipaksakan tidak akan berhasil tanpa adanya kesadaran individu.

0 komentar:

Template by:
Free Blog Templates